Nanoe Biroe, yang terlahir dengan nama I Made Murdita di Denpasar pada 17 November 1982, merupakan salah satu tokoh musisi paling ikonis dan fenomenal di Bali. Mengusung perpaduan genre rock, reggae, pop, dan punk dengan balutan lirik berbahasa Bali dan Indonesia, perjalanan Nanoe Biroe bukanlah sekadar pencapaian komersial di industri hiburan. Hidupnya sarat akan pencarian spiritual, dedikasi ekstrem pada seni, pelayanan sosial, serta kisah cinta sejati yang sangat mendalam.
Berikut adalah ulasan mendetail tentang perjalanan panjang Nanoe Biroe melintasi dunia musik, filosofi pribadi, hingga kontribusi sosialnya yang nyata bagi masyarakat.
Akar Bermusik: Dari "Raja Iblis" hingga Kejayaan "Biru Band"
Ketertarikan pria yang akrab disapa Widi atau Nano ini pada musik tumbuh sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Tumbuh di lingkungan keluarga di mana paman-pamannya kerap memutar musik keras seperti Metallica dan Iron Maiden, Nanoe secara alami jatuh cinta pada genre tersebut.
Pada masa SMP, Nanoe mulai membentuk grup musik underground/black metal pertamanya yang diberi nama "Raja Iblis". Namun, band ini tidak bertahan lama karena Nanoe merasakan pergolakan batin dan merasa "tidak jujur". Ia menyadari bahwa mereka menyanyikan lirik-lirik memuja setan, namun di kehidupan nyata ia masih sembahyang dan pergi ke pura saat perayaan Galungan. Kesadaran inilah yang kemudian membentuk prinsipnya untuk selalu jujur dalam bermusik.
Langkah seriusnya di dunia musik dimulai ketika ia masuk jenjang SMA pada tahun 1998 dengan membentuk Biru Band. Nama "Biru" sangat terinspirasi dari grup legendaris Slank, khususnya dari album dan lagu Generasi Biru, karena Nanoe adalah penggemar berat Slank (Slankers) yang menjadikan band tersebut sebagai "guru besar" yang mengajarinya tentang penulisan lirik dan idealisme. Bersama Biru Band, Nanoe merajai banyak festival musik, termasuk menjuarai Rock Log Zhelebour se-Bali dan NTT pada tahun 2002, serta berkesempatan manggung di Jepang. Namun, di tengah kesuksesan tersebut, Biru Band akhirnya divakumkan karena Nanoe dan para personel merasa mulai kehilangan kebahagiaan dan esensi sejati dari bermain musik.
Kesuksesan Jalur Solo dan Rekor MURI yang Fenomenal
Vakumnya Biru Band membawa Nanoe pada masa pencarian jati diri yang berujung pada aktivitas kerelawanan di sebuah panti asuhan. Di tempat inilah ia banyak menulis lagu, yang kemudian menjadi cikal bakal karier solonya dengan nama Nanoe Biroe. Pada tahun 2005, ia meledak di pasaran melalui album debut Suba Kadung Metulis yang fenomenal dan terjual hingga 48.000 kopi.
Nanoe dikenal sebagai musisi dengan dedikasi yang tidak masuk akal, yang dibuktikannya melalui pemecahan 4 Rekor MURI. Di antaranya adalah rekor sampul album musik terpanjang (1 meter) dan tanda tangan terbanyak di atas sampul album pada tahun 2007.
Pencapaian MURI-nya yang paling heroik dan ekstrem adalah bernyanyi nonstop terlama selama 80 jam (5 hari 4 malam) di Lapangan Puputan Badung pada bulan Mei 2010. Awalnya, Nanoe hanya merencanakan konser 40 jam yang sudah disetujui oleh Wali Kota dan dipublikasikan secara luas. Namun, beberapa hari sebelum acara, pihak MURI menginformasikan bahwa rekor telah dipecahkan oleh seseorang di Bandung selama 46 jam. Merasa harga dirinya sebagai musisi Bali dipertaruhkan, Nanoe nekat menaikkan targetnya menjadi 80 jam. Dengan aturan MURI di mana 1 jam bernyanyi mendapat jatah istirahat 5 menit (yang bisa diakumulasikan menjadi 25 menit istirahat setiap bernyanyi 5 jam), Nanoe berhasil menuntaskan tantangan yang mengancam nyawa tersebut untuk membuktikan ketangguhan musisi lokal di mata nasional.
Filosofi Kehidupan: Rambut Gimbal, Sepatu Sanglir, dan "Baduda"
Nanoe Biroe bukan hanya sekadar pemusik, ia adalah pemikir yang mengaplikasikan filosofi pada penampilannya:
- Rambut Gimbal: Keputusannya menggimbal rambut berakar dari inspirasi saat mendengar wawancara Bob Marley. Ketika ditanya tentang kekayaan, Marley menjawab bahwa kekayaan yang ia miliki di dunia ini hanyalah satu, yaitu napas. Memahami bahwa kekayaan materi tidak ada artinya saat napas berhenti, Nanoe menggimbal rambutnya sebagai pengingat akan hal tersebut.
- Sepatu Sanglir (Berbeda Warna): Hingga hari ini, Nanoe konsisten memakai sepatu yang berbeda warna antara kiri dan kanan (sepatu sanglir). Maknanya sangat mendalam: "Berbeda warna namun tetap satu tujuan". Filosofi ini mengajarkan bahwa meskipun manusia berbeda agama, partai, atau pandangan, kita tetap bisa berjalan beriringan menuju tujuan yang sama layaknya langkah kaki.
Selain itu, Nanoe membentuk komunitas pendengarnya dengan sebutan Baduda, dan ia sendiri dijuluki sebagai "The President of Baduda". Baduda (sejenis kumbang yang hidup di kotoran) dipilih sebagai simbol kerendahan hati. Filosofi utama dari Baduda adalah "Sesuaikan Gaya dengan Kemampuan". Nanoe sangat resah melihat generasi muda yang memaksakan gaya hidup di luar batas finansial mereka. Dengan filosofi Baduda, ia ingin mengajarkan para pendengarnya untuk hidup bersahaja, bahagia dengan apa adanya, dan tidak memaksakan "gaya" jika tidak ada "kemampuan".
Mendiang Istri: Cinta Sejati di Balik Kesuksesan Nanoe
Perjalanan karier seorang Nanoe Biroe tidak akan bisa dilepaskan dari peran mendiang istrinya, Ni Made Murniasih (akrab disapa Mbok Uni), seorang guru agama Hindu yang sangat dicintainya. Kisah pertemuan mereka terjadi secara tak terduga pada tahun 2003 di Panti Asuhan Dharma Jati 2, tempat Nanoe menjadi relawan pelatih nyanyi anak-anak. Saat itu, ada seorang anak panti bernama Mickey yang sedang sakit dan butuh dibawa pulang dari sebuah acara panggung. Mbok Uni secara kebetulan adalah penonton yang diminta tolong oleh Nanoe untuk menemani dan memangku Mickey di atas sepeda motor. Pertemuan itu berlanjut hingga mereka menikah pada 11 Maret 2008.
Mbok Uni adalah sosok sentral di balik citra Nanoe Biroe. Dialah yang meyakinkan Nanoe untuk tampil berani di jalur solo, menciptakan logo ikonik jantung/hati terbalik milik Nanoe Biroe, ikut merancang visual sampul album perdananya, dan bahkan menjadi pengarah gaya dalam sesi pemotretan pertama Nanoe. Sebagai seorang guru agama, diskusi-diskusi mereka tentang kitab suci (seperti Bhagavad Gita) sangat memengaruhi Nanoe sehingga lirik-lirik lagunya berkembang dari sekadar lagu patah hati menjadi lagu bermuatan nilai spiritual, keluarga, dan sosial.
Pada 20 Februari 2025, Mbok Uni didiagnosis mengidap kanker. Sebagai sosok wanita yang sangat tangguh dan berprinsip, ia menolak pengobatan medis seperti operasi dan kemoterapi, serta memilih merawat dirinya dengan tegar tanpa ingin merepotkan orang lain. Selama 9 bulan perjuangan melawan sakit, optimisme mereka selalu berada di angka 10/10. Namun takdir berkata lain, Mbok Uni menghembuskan napas terakhirnya pada 28 November 2025.
Kehilangan "belahan jiwanya" membuat Nanoe hancur bagaikan burung yang kehilangan satu sayapnya. Namun, dengan kekuatan cinta, ia bertekad mengubah duka dan luka tersebut menjadi sebuah mahakarya abadi. Saat ini, Nanoe Biroe tengah memproduksi album berjudul "Murniasih", dengan harapan bahwa selama karya tersebut hidup dan didengarkan orang, nama dan kebaikan mendiang istrinya tidak akan pernah dilupakan.
Kehidupan Sosial: Balian Mental dan Pejuang Lingkungan Hidup
Dari sisi sosial, pengaruh musik Nanoe Biroe begitu kuat hingga menjadi subjek penelitian akademis. Penelitian dari Universitas Negeri Yogyakarta menyoroti berbagai sumbangsih Nanoe dalam kehidupan sosial kemasyarakatan Bali.
Nanoe bukan hanya sekadar bernyanyi, ia adalah aktivis di lapangan:
- Lingkungan Hidup: Jauh sebelum kampanye lingkungan menjadi tren, Nanoe secara vokal menyuarakan isu persampahan. Ia bahkan rela membuat konser yang ekstrem, yaitu bernyanyi sambil berendam di sungai Tukad Badung bersama masyarakat untuk langsung turun tangan membersihkan sampah, menunjukkan bahwa seniman harus berani kotor demi alam.
- Kesehatan dan Pemuda: Menolak stigma bahwa musisi identik dengan gaya hidup kelam, Nanoe tampil bersih tanpa narkoba. Berkat gaya hidup positif dan kampanyenya tentang bahaya obat terlarang, ia diangkat menjadi Duta Remaja Peduli AIDS oleh Gubernur Bali pada tahun 2007.
- Menyama Braya (Persaudaraan): Bagi Nanoe, musik adalah alat ajaib penembus batas kelas sosial untuk menghubungkan hati manusia. Ia sering mengisi acara amal (ngayah) ke berbagai pelosok, membuktikan filosofinya bahwa seniman memiliki peran seperti seorang "Balian" (penyembuh tradisional), namun menyembuhkan masyarakat dari luka mental dan degradasi moral.
Kesimpulan
Perjalanan I Made Murdita alias Nanoe Biroe merupakan sebuah kisah epik tentang konsistensi. Dari masa sulit kekurangan uang untuk rekaman, bergelut dengan keegoisan masa muda, memecahkan rekor yang menyiksa fisik, hingga menjadi suami yang hancur karena kehilangan istri tercintanya, Nanoe Biroe terus membuktikan satu hal: bahwa hidup, seperti halnya musik, pada akhirnya adalah tentang pelayanan, cinta, dan menebarkan kebaikan bagi semesta. Karya-karyanya terbukti terus hidup dan abadi menginspirasi masyarakat Bali dari lintas generasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar