Selamat datang di Bali, pulau surga tempat keharmonisan alam semesta dijunjung setinggi langit, tempat dupa tak pernah berhenti mengepul, dan tempat di mana nyawa manusia, secara mengejutkan, ternyata bisa ditukar setara dengan harga seekor ayam aduan.
Luar biasa memang masyarakat kita. Pada Jumat dini hari tanggal 24 Juli 2026, di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Tabanan, kita baru saja disuguhi sebuah pementasan peradilan jalanan yang sangat "heroik". Seorang pria berinisial KD asal Singaraja, Buleleng, kepergok mencuri ayam aduan dan seketika itu juga dihakimi hingga tewas oleh massa yang "budiman". Tidak cukup sampai di situ, motor terduga pelaku pun hangus dibakar sebagai pelengkap ritual amuk massa. Sebuah pemandangan yang tentu saja sangat kontras dengan ajaran Tri Kaya Parisudha, berpikir baik, berkata baik, dan berbuat baik, yang selama ini kita hapalkan sejak sekolah dasar dan kita banggakan sebagai identitas luhur masyarakat Bali.
Mari kita renungkan betapa puitisnya ironi ini. Masyarakat kita sangat takut pada leteh atau kekotoran spiritual. Ketika terjadi kematian tidak wajar atau pertumpahan darah berdarah di wilayah desa, kita akan buru-buru sibuk mengumpulkan dana, waktu, dan tenaga untuk menggelar upacara mecaru demi memulihkan keseimbangan kosmis yang terganggu. Namun, apa gunanya kita repot-repot menyucikan tanah dari darah yang terlanjur tumpah, jika kita sendiri yang dengan penuh semangat dan amarah menumpahkan darah tersebut sejak awal?. Kita seolah menjadi masyarakat yang lebih suka membersihkan dosa dengan banten dan sesajen, daripada menahan tangan untuk tidak berbuat dosa itu sendiri.
Tentu saja, kita punya tameng teologis yang sangat elegan dan siap pakai untuk membenarkan kebrutalan ini: "Ini kan zaman Kali Yuga!". Ya, Lontar Catur Yuga memang dengan sangat akurat mendeskripsikan bahwa kita sedang berada di zaman kegelapan (Kali Yuga), di mana moralitas merosot tajam, hawa nafsu dan egoisme mengambil alih akal sehat, dan kebenaran nyaris lenyap. Sastra suci Bhagavata Purana dan Mahabharata bahkan sudah meramalkan bahwa di zaman ini manusia akan berumur pendek, suka bertengkar, mudah emosi, dan kejam layaknya binatang.
Jadi, karena lontar sudah meramalkannya, apakah lantas kita merasa mendapat "restu" langit untuk memaklumi tindakan main hakim sendiri? Seolah-olah dengan berlindung di balik frasa "Zaman Kali Yuga", kita sah-sah saja memukuli orang hingga mati alih-alih menyerahkannya kepada aparat penegak hukum yang berwenang. Kita menyalahkan zaman, padahal esensi dari ajaran agama Hindu justru meminta kita untuk mengendalikan diri, mempraktikkan Ahimsa (tanpa kekerasan), dan bertindak rasional untuk mengubah keburukan menjadi kebaikan sebagaimana diamanatkan dalam kitab Sarasamuscaya.
Di balik sorak-sorai kepuasan massa yang mungkin merasa telah membersihkan desa dari "hama" pencuri ayam, ada tragedi kemanusiaan yang ditinggalkan. Di ruang jenazah atau di sudut rumah yang kini kehilangan sosok kepala keluarga, tangis sang anak begitu menyayat hati. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa ayahnya direnggut paksa dari dunia ini oleh orang-orang yang mungkin paginya baru saja bersembahyang memohon kedamaian. Nyawa sang ayah melayang, menguap bersama dengan harga seekor ayam dan sebentuk keangkuhan kolektif massa.
Pada akhirnya, kejadian di Baturiti ini bukanlah sekadar kasus kriminalitas biasa; ini adalah cermin raksasa bagi masyarakat kita. Cermin yang memantulkan wajah kita yang garang, yang lebih memilih amarah ketimbang kebijaksanaan, dan lebih menyukai hukum rimba ketimbang hukum negara.
Semoga saja upacara mecaru berikutnya yang akan digelar di lokasi kejadian bisa benar-benar membersihkan "kotoran" di sana. Bukan hanya kotoran sisa darah di aspal, tetapi kotoran ego, kebencian, dan hilangnya nurani di dalam pikiran kita sendiri. Sebab jika tidak, kita hanya akan terus menjadi masyarakat yang rajin menyucikan alam, tapi membiarkan jiwa kita sendiri membusuk dalam amarah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar